Tuesday, November 13, 2012

McKibben Says

"Ahli geologi telah melakukan pekerjaan yang terlalu sempurna dalam mencari batubara dan minyak,"
"Anda bisa berhenti dengan bagian dari program itu,"
"Kita sudah memiliki lebih dari cukup bahan untuk dibakar." 

Ia memuji kecerdasan manusia namun mengeluhkan kurangnya moral spesies kita ketika menghadapi masalah ini.

"Apakah otak besar itu berpadu dengan hati yang cukup besar untuk perubahan?" katanya.

Sunday, November 4, 2012

Quote this day

Masalah adalah bagian dari kehidupan.
Mengeluhkan masalah hanya akan membuat kehidupan menjadi lebih rumit.

Monday, October 1, 2012

Bukan itu yang Saya cari...

Hari ini saya KECEWA dengan tempat saya bekerja.

Ini kalimat yang ingin saya katakan sejak keluar dari ruangan bu Teti. Ya, pagi ini saya mengumpulkan keberanian untuk menghadap bos saya. Saya hanya bertanya mengenai kontrak kerja. Saya tahu beliau tidak tahu apapun masalah ini. Saya hanya berharap ada pembelaan darinya yang (menurut saya) selalu memperjuangkan saya untuk tetap bekerja disini. Di rumah sakit ini.

Beliau memang setuju dengan pendapat saya yang tidak setuju dengan beberapa pasal dalam kontrak.

1. Pasal yang menyebutkan bahwa kami harus mengajukan permohonan tertulis untuk memperpanjang kontrak kerja. (yang menurut saya seolah-olah menyiratkan bahwa kami akan selalu dianggap sebagai pegawai baru dan masa kerja kami tidak dihitung)
2. Dan yang menghilangkan pasal yang menyatakan bahwa kami berhak untuk mendapatkan penghasilan lain-lain. (yang menurut saya seperti meniadakan hak remunerasi bagi kami)

Akhirnya bos saya itu menyuruh saya untuk bertanya langsung dengan salah satu pejabat di bagian kepegawaian. Saya memilih bu Teti. Diluar dugaan ternyata beliau menjelaskan bahwa saya salah mengerti tentang pasal yang pertama. (alhamdulillah...saya salah)

Pasal kedua pun bu Teti juga mengatakan bahwa saya salah. Tapi di sela-sela pernyataannya itu dia bilang bahwa yang membuat surat kontrak itu adalah Pak Pungki, sang Wakil Direktur Umum dan Keuangan (saya ulangi lagi Wakil Direktur Umum dan Keuangan!!!Keuangan!!!).

Bayangkan, sang Wadir keuangan saja sudah jelas-jelas menghapus pasal tersebut. Boleh dong kalau saya menyimpulkan bahwa rumah sakit tempat saya bekerja dengan sengaja menghapus pasal tersebut. Yang berarti dengan sengaja mengurangi pendapatan kami, karyawan yang setaraf outsourcing (karena gaji dibawah UMR), yang disamarkan namanya menjadi pegawai BLUD Non CPNS (karena dengan UU yang ada saat ini kami tidak akan bisa diangkat menjadi CPNS apalagi PNS).

Bu Teti juga sepertinya sudah give up. Sepertinya menyerah memperjuangkan kami. Saya malah disuruh untuk terus mencoba mencari pekerjaan di tempat lain.  Karena dia tahu kalau tidak ada masa depan disini. Sedangkan saya masih muda. Masih punya banyak kesempatan.

SAYA SANGAT SETUJU DENGAN BU TETI

Saya memang setuju dan pemimpin memang seharusnya begitu. Bicara yang sejujurnya. Selalu memberi kesempatan anak buahnya untuk berkembang meski itu berarti harus pergi.

Tapi Stop! bukan itu masalahnya. Sekarang saya masih disini. Bekerja di tempat yang tidak memihak saya dan pegawai BLUD lainnya. Selama saya masih disini, saya akan berusaha memperjuangkan hak kami. Hingga status, gaji, dan jenjang karir kami jelas.

Kami akan mencoba bicara dengan "mereka".

Bila kami tidak didengar, saya akan diam.

"Mereka" boleh menyuruh saya bekerja hingga tenaga saya habis. Tapi tidak otak saya.
Saya akan bersikap seperti robot. Bekerja. Itu saja. Tidak lebih.
Ambil keringat saya. Tapi tidak Ide saya. Pemikiran saya tidak sedikit pun untuk "mereka".


NB : 
Tadi saat menghadap bos dan bertukar pikiran. Di akhir obrolan beliau justru mengatakan "kalau memang tidak dapat remunerasi biar diberi sama bagian saja. anggaran kita masih cukup kok."

Saya miris mendengarnya. Karena sebenarnya bukan itu yang saya cari. Saya bekerja tidak semata-mata demi uang. Tapi demi masa depan saya.

Thursday, September 27, 2012

(hope) this dream (come true)

10 tahun lagi kamu akan seperti apa?
aku bakal jadi orang sukses (jawaban basi!!!) 
aku akan punya kerjaan tetap sebagai PNS tapi punya pekerjaan sampingan  sebagai ilustrator buku anak yang handal seperti Mbak Gina.  
(soalnya bosku, Pak So, bilang jadi PNS gajinya itu kecil tapi punya waktu buat pekerjaan sampingan. jadi kalo nanti aku punya kerjaan sampingan jangan protes ya Pak Bos. Ojo Nesu...wkwkwkwk)

Kenapa pilih ilustrator buku anak sebagai kerjaan sampingan?
karena aku suka. it's cliche. 
aku pingin anak-anak punya buku bacaan yang bermutu dan murah (karena tontonan yang ada di tv banyak nggak mutunya & buku anak yang bermutu itu mahal). 

Kenapa bisa mahal?
entah lah. mungkin karena sang kreator ingin dihargai. 
tapi menurut aku ingin dihargai tidak lantas menjadikan harga buku menjadi mahal. (kalau saya) kreator akan lebih merasa dihargai jika buku itu bisa dibaca oleh lebih banyak orang, dari berbagai kalangan. sehingga lebih banyak manfaatnya yang bisa diambil. 


Aku harap mimpi ini terwujud dalam waktu dekat...Amin.



day dreaming

hidup itu menyenangkan jika kita merasa demikian

bagaimana jika tiba-tiba hidup kita tiba-tiba berubah 180 derajat???

mari kita berandai-andai...

Andai a..a..a...ku punya rumah gedong...
hmm...enak kali...
banyak kamarnya...bisa aku kos-in per bulan (mmm...) 1juta...hahaha 

Andai a..a..a..ku punya mobil mewah
mobil mewah apaan nih?aku maunya ferrari...warna merah nge-JRENG...biar tambah keren

Andai a..a..a..ku punya duit buanyaaak! jumlah ratusan milyar
kalo sebanyak itu aku mau berhenti kerja terus traveling keliling Indonesia. abis gitu lanjut traveling keliling dunia. cari tempat yang indah-indah. difotoin. 
lanjut....
kalo punya duit sebanyak itu aku mau buka banyak usaha mulai dari toko kue, penerbit buku anak (aku yang bikin gambarnya), usaha buat mainan mendidik dari kain flanel, creative stuff...bukain papaku restoran, bukain mamaku perusahaan laundry, bukain mbakku apotek obat tradisional...trus bisa ngerekrut karyawan yang banyak supaya pengangguran menipis. 

Andai a..a..a..a..a..a..a..a..a..a..a..a SEMUANYA JADI KENYATAAN


Tuesday, September 4, 2012

i'm SHOCK

it's almost a nightmare
yeah..it is.

i never think i'll face the law. i don't want too.
but today i almost face it.

the cronology...

my boss want me to help in PPID. i agree although i know nothing (hey, i can't refuse him. he's my boss).
several days it's still fine and then they start request me to attend PPID meeting. you know what? this meeting should be attend by chief because it's explain everything about how to run PPID in our office. how to transparent all information, especially the budget.

one day, there's a NGOs asked us to sent our budget program and its report. they need it to monitor the government and the organization around it.
but our finance head chief (wadir um) don't want to give it. OH MY GOD!!!
so, my boss asked me to sent the reply message via email and requested them (NGOs) to fill the form of request for information including their identity proof.
they reply our email and fill the form but not attached their identity proof. so, my boss asked PPID head chief (Ka.TU) to sent reply (again) but this time via post.

day after day passed...but the NGOs never reply our message. until one day...

we've got a letter to attend mediation of dispute session in Information Commission. JDARRR!!!

i'm very shock!!!
i feel like it's the end of my carreer.

then I go with my other boss (Kasub. Perundtib) and bring some document and some brave that we're not wrong.
after doing some argument, the NGOs asked the mediator some question about sending the dispute letter.
fortunately, they agree that they're wrong. they are not follow procedure (they doesn't give their identity) so they agree to resend their request.

thanks God...it's almost...

but what i should learned from this...is that i must to keep all document (include post sending proof). because the NGOs do this.

FIGHTING!!!

Wednesday, June 20, 2012

Inspiring Person - Don Hasman

Ini dia salah satu tokoh Indonesia dan dunia yang patut kita teladani. Kalo liat sosok eyang satu ini langsung keingat sama eyang Kung tercinta di Malang. Sama-sama sosok bersahaja karena kemana-mana selalu lebih memilih alat transportasi yang merakyat bahkan jalan kaki jika bisa dan tidak pernah mengharap imbalan serta hal mewah. 

Sudah gitu sama-sama cinta alam. Cuma caranya buat menghargai alam yang beda. Kalo Eyang Kung-ku dengan hobi berkebun (nggak bisa liat lahan nganggur, pasti dirubah jadi kebun bunga ato sayur buah), eyang Don mengabadikannya lewat fotografi. 


Ini dia salah satu artikel yang membahas soal eyang Don ini....

70 Tahun Don Hasman

Don Hasman. Foto oleh: Kristupa Saragih
Don Hasman. Foto oleh: Kristupa Saragih
Khalayak fotografi Indonesia sudah semestinya mengenal Don Hasman. Sosok fotografer penjelajah yang kehidupannya patut diteladani. Semangat Oom Don, demikian ia biasa disapa, seperti api yang tak pernah padam. 

Lahir di Jakarta, 7 Oktober 1940, Oom Don sudah mulai memotret sejak usia 11 tahun. Berbagai benua sudah dijelajah, puncak-puncak tinggi dunia sudah ditaklukkannya. Ribuan kilometer sudah ditempuh baik dengan berjalan kaki maupun bersepeda. 

Sosok Oom Don adalah sosok langka, sulit mencari pribadi yang mampu menyamai. Generasi muda fotografi mungkin pernah dengar namanya, tapi pertemuan secara langsung dengan Oom Don bisa membuat kita menyelami pribadinya. Sosok fotografer yang berkomitmen penuh pada profesi, loyal pada rekan-rekan dan selalu rindu berbagi.
Oom Don yang saya kenal adalah pria sederhana. Pada suatu acara di Jogja tahun 2009, Oom Don pernah pamit untuk beli tiket kereta api pulang ke Jakarta. Diantar seorang mahasiswa berboncengan motor, Oom Don berangkat ke Stasiun Tugu. 

Kepada mahasiswa itu saya titipkan sejumlah uang untuk tiket kereta eksekutif. Oom Don layak menikmatinya. Tapi mahasiswa tersebut, sekembalinya dari Stasiun Tugu, mengembalikan uang masih dalam jumlah banyak. Oom Don ternyata lebih suka menumpang kereta ekonomi. 

Oom Don juga saya kenal sebagai sosok yang penuh inisiatif, ide berani dan semangat menyala-nyala. Tahun 2006 di Jakarta, Oom Don berinisiatif mengumpulkan fotografer untuk sebuah proyek buku bertema Indonesia. Sejumlah fotografer terkemuka dikontaknya untuk berkumpul di studio Ferry Ardianto di bilangan Tebet. 

Saya sebagai yang termuda di rapat informal itu menyaksikan semua fotografer senior yang hadir amat respek pada Oom Don. Beberapa fotografer lantas bisik-bisik mengingatkan satu sama lain untuk sekedar mengongkosi Oom Don pulang dengan taksi. 

Uang kemudian diberikan secara diam-diam ke Oom Don, ketika acara usai dan semua saling berpamitan. Oom Don menolak, seraya menyebutkan bahwa ia terbiasa menumpang bis umum. Dan, Oom Don tetap pulang ke rumahnya di Depok menumpang bis umum. 

Begitu sederhananya kehidupan Oom Don hingga ia baru bersedia memakai ponsel setahun terakhir ini saja. Sebelum itu komunikasi hanya melalui telepon di rumahnya di Depok. Jika Oom Don sedang berpetualang, maka kita hanya bisa titip pesan pada anak perempuannya. 

Don Hasman. Foto oleh: Kristupa Saragih
Don Hasman. Foto oleh: Kristupa Saragih
Padahal prestasi Oom Don sungguh mengagumkan. Tempat tertinggi yang pernah ditaklukkan Don Hasman adalah Nuptse, kawasan Himalaya, Everest base camp 6.150 meter tahun 1978, masuk wilayah geografis Nepal. Baru 9 tahun kemudian rekor tersebut bisa diperbaharui oleh orang Indonesia lain. Don Hasman juga pernah menaklukkan Gunung Kilimanjaro 5.985 meter di Tanzania tahun 1985. Ia berangkat, antara lain, bersama mendiang Norman Edwin, wartawan Kompas, yang legendaris itu. 

Keteladanan Don Hasman adalah kekonsistenan memotret hingga hari ini, kala usianya beranjak senja. Oom Don, demikian ia akrab disapa, tahun 2007 masih sanggup berjalan kaki 1000 km dari Saint-Jean-Pied-de-Port, Perancis Selatan ke Cape Finisterre, Spanyol Barat Laut. Perjalanan selama 35 hari itu ditempuh dalam 2.200.000-an langkah oleh anggota kehormatan Mapala UI bernomor anggota MK 225 ini. 

Menimba pengalaman dari fotografer dan petualang alam bebas ini bak menimba dari sumur yang tak pernah kehabisan air. Dalam kunjungan ke kantor Fotografer.net bulan Maret 2010, sambil saling berbagi foto, Oom Don menyebutkan, “Foto bagus adalah foto yang bisa menggugah perasaan.” 

Petikan yang singkat tapi dalam dan mengena. Ketika fotografer berkutat dengan kecepatan rana, diafragma, dan perlombaan resolusi, petikan Oom Don ini penting dijadikan bahan refleksi. “Foto yang menggugah bisa menginspirasi orang yang melihatnya. Membuat orang melakukan sesuatu,” imbuh Oom Don. 

Selamat berusia 70 tahun, Oom Don. Semoga selalu sehat dan senantiasa berbagi kepada khalayak fotografi Indonesia dan dunia. 

Don Hasman. Foto oleh: Kristupa Saragih
Don Hasman. Foto oleh: Kristupa Saragih

sumber : http://kristupa.wordpress.com/2010/10/07/70-tahun-don-hasman/